Upacara pemberangkatan 161 peserta Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang digelar pada Senin (20/7/2026). KKN-T merupakan salah satu implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa diharapkan mampu belajar sekaligus berkontribusi dalam pemberdayaan dan pengembangan masyarakat (community development). Program ini juga sejalan dengan harapan pemerintah agar keberadaan perguruan tinggi dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat di sekitarnya.
Mengangkat tema “Penguatan Ekosistem Desa Wisata Berdampak dan Berkelanjutan”, program KKN-T kali ini berlangsung selama 40 hari. Terdapat delapan desa tujuan yang seluruhnya berada di wilayah Kabupaten Malang.
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unira Malang, Dr. Abdillah Ubaidi, M.M., menyampaikan bahwa tema kegiatan desa wisata merupakan bentuk keberlanjutan dari program KKN-T semester sebelumnya. Menurutnya, pengembangan desa wisata masih menjadi isu strategis dalam membangun ekonomi masyarakat desa. Hal ini juga sejalan dengan kebijakan Kementerian Desa dalam mewujudkan masyarakat desa yang berdaya dan mandiri.
“Kami ingin mahasiswa belajar dinamika di desa. Mereka akan belajar bersama masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal, memperkuat kelembagaan desa wisata, mengoptimalkan promosi digital, meningkatkan kapasitas UMKM, hingga memperkuat kolaborasi antarpemangku kepentingan sehingga desa mampu tumbuh secara mandiri,” ungkapnya.
Sementara itu, dalam sambutannya Rektor Unira Malang, H. Imron Rosyadi Hamid, S.E., M.Si., Ph.D., mengingatkan bahwa KKN merupakan bagian dari perkuliahan yang harus dijalani mahasiswa. Karenanya, KKN bukan semata memberdayakan masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari proses belajar secara langsung di tengah masyarakat.
“Setidaknya ada tiga tahapan dalam menjalani pembelajaran di masyarakat melalui KKN-T ini. Pertama, lakukan orientasi, mendengar dan mengenal kebutuhan, potensi, sekaligus memahami budaya, adat, dan kebiasaan yang berlaku di desa tujuan. Kedua, beradaptasi dengan menghormati serta menyesuaikan diri terhadap budaya dan kebiasaan lingkungan. Kolaborasi dan pemberdayaan dapat dibangun ketika mahasiswa mampu melalui kedua tahapan tersebut dengan baik,” jelas Gus Im, sapaan akrabnya.
Beliau juga menekankan pentingnya mahasiswa menghargai budaya lokal serta menjaga nama baik diri maupun kampus selama menjalankan KKN.
“Jaket yang saudara pakai tidak hanya sebagai penghangat dari cuaca dingin di desa. Lebih dari itu, terdapat identitas yang harus dijaga, baik secara pribadi maupun sebagai bagian dari institusi,” pesannya.
Menandai keberangkatan KKN-T, Rektor bersama Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Raden Rahmat secara simbolis menyematkan jaket kepada perwakilan peserta dan dosen pembimbing lapangan (DPL) yang akan mendampingi mahasiswa dalam merencanakan dan melaksanakan program bersama masyarakat.
Kemeriahan seremoni pemberangkatan semakin terasa dengan penabuhan kentongan sebagai simbol komunikasi dan informasi masyarakat desa, yang dilanjutkan dengan penyalaan paper confetti di penghujung acara. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Raden Rahmat, Dr. KH. Romadhon Khotib, M.H.I., sebagai ikhtiar agar pelaksanaan KKN-T berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi mahasiswa maupun masyarakat.
Melalui KKN-T ini, mahasiswa diharapkan mampu mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah sekaligus membangun kolaborasi bersama masyarakat dalam mewujudkan desa yang lebih berdaya dan berkelanjutan.(hum26/elk)

